Saturday, September 19, 2009
Monday, August 17, 2009
#IndonesiaUnite, Kenapa Nasionalisme, Kenapa Sekarang?
Untuk beberapa kalangan, terutama di kalangan pengguna Twitter di Indonesia (dan terutama di Jakarta), gaung #indonesiaunite masih sangat terasa, dan bahkan sudah membuahkan berbagai kegiatan dan berpuncak pada pendeklarasian Amanat Bersama tanggal 16 Agustus kemarin. Kalau mau baca lebih rinci sih, lebih baik ke website indonesiaunite.com karena sudah cukup jelas.
Gerakan ini berpegang pada prinsip bahwa #indonesiaunite 'hanya' sebuah semangat, dan tidak akan diformalkan ke dalam sebuah organisasi atau struktur lain. Hal ini pernah juga saya bahas pada blog posting ini beberapa minggu lalu, yang pada intinya menekankan kekuatan #indonesiaunite terletak justru pada sifatnya yang crowdsourcing (belum ada padanan Bahasa Indonesianya nih) dan menyebar secara viral. Untuk yang memperhatikan, sangat terlihat bagaimana semangat #indonesiaunite menyebar secara viral ke berbagai kalangan.
Tapi masih banyak juga kalangan masyarakat yang tidak tahu-menahu mengenai gerakan ini, berhubung informasi mengenai #indonesiaunite praktis lebih banyak menyebar pada kalangan pengguna internet, yang notabene masih relatif belum banyak di Indonesia. Banyak juga kalangan yang tidak peduli karena lebih peduli ke hal lain, apapun itu. Ada juga pihak-pihak yang skeptis, mengatakan bahwa gerakan ini omong kosong belaka, atau mempertanyakan kenapa baru nasionalis setelah ada serangan bom. Bentuk nyatanya apa? tanya mereka.
Adapun kalangan yang baru belakangan tahu mengenai #indonesiaunite, dan pertanyaan mereka pertama adalah "siapa sih yang bikin?" yang agak sulit dijelaskan tanpa menjelaskan Twitter itu apa, ha ha. Pada awalnya pihak media pun masih salah kaprah dengan menilai bahwa #indonesiaunite adalah gagasan satu atau beberapa orang, bukan secara crowdsourcing (yang memang relatif baru di Indonesia). Tapi mudah-mudahan fakta penting mengenai #indonesiaunite ini akan menyebar seiring meningkatnya pemahaman orang mengenai media sosial seperti Twitter dan Facebook.
Nah, saya ingin mencoba memahami sekaligus menawarkan jawaban untuk kalangan-kalangan yang saya sebut di atas.
Generasi saya besar di masa Orde Baru, yang notabene penuh dengan doktrin-doktrin PMP dan P4 dan GBHN dan mahluk-mahluk singkatan hapalan lain, yang seolah disuntikkan ke dalam kepala kita sejak SD. Karena memang pola pendidikannya doktrin, bukan pemahaman, jadi banyak dari kita seolah menolak pendidikan ini. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, yang mungkin berlaku untuk hampir semua mata pelajaran lain selama SD sampai SMA. Kuncinya di sini: karena PMP dan P4 esensinya sangat kuat pada cinta bangsa dan negara, jadi ada bagian dari kita seolah-olah menolak untuk merasakan hal ini. Efeknya? Kalau ada orang yang beneran cinta bangsa dan negara, dianggap aneh. Ada juga hal lain yang penting dalam P4 yang seperti 'ditolak' oleh kita: menghargai hasil karya orang lain.
Padahal sebenarnya, rakyat kita cinta bangsa dan negara kok. Tapi terkadang malu mengungkapkan, kecuali dalam perayaan 17 Agustus, dalam bentuk menjadi panitia atau semacamnya - atau hal-hal kecil lain. Begitu ada yang bicara soal negara, otomatis dianggap mau berpolitik, baik itu di masa Orde Baru maupun setelahnya. Hampir-hampir, kita sampai pada sebuah situasi di mana orang yang terlihat cinta bangsa dan negara hanya para politikus (yang mungkin saja lebih cinta kepentingan kelompoknya), dan para atlit nasional dan daerah (pahlawan modern tanpa tanda jasa).
Susahnya lagi, perseteruan tingkat atas politik dan pemerintahan soal negara membuat makin banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap negara, terlebih lagi dengan adanya stigma bahwa pemerintah tidak melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik (yang mungkin adalah pendapat subyektif, karena terkadang yang kita lihat hanya jeleknya saja).
Lagi-lagi, tetap saja, rakyat Indonesia cinta bangsa kok. Negara mungkin nomer dua. Cuma karena masih ada persepsi bahwa membicarakan bangsa atau negara adalah hal yang sama, lantas pembicaraan nasionalis cenderung terbungkam, terutama dengan naiknya konteks-konteks berbau agama dalam wacana pemikiran nasional. Ini adalah strike three, kalau meminjam istilah baseball - nasionalis dianggap sekular, yang dalam persepsi banyak orang Indonesia, berarti tidak beragama (padahal berarti pemisahan urusan negara dan agama belaka). Padahal, sebagai negara yang 99,99% penduduknya memeluk agama, kita tetap bisa nasionalis tanpa melupakan agama.
Terkena tiga kali sekalipun, rakyat kita masih ada yang berjiwa nasionalis - pahlawan tanpa tanda jasa yang lain adalah generasi entrepreneur - apapun bidangnya - yang dengan caranya sendiri memajukan Indonesia, langkah demi langkah.
Serangan bom demi serangan bom terjadi di Indonesia, yang membuat banyak rakyat bingung dan marah. Ya, betul, pada tiap serangan bom yang sebelum 17 Juli 2009, rakyat Indonesia bingung dan marah, hanya saja energi kemarahan itu seperti ditelan masing-masing, hanya terungkap lewat berbagai tulisan dan karya, yang tidak terhubung.
Bedanya dengan kejadian tahun ini? 4 tahun lalu, Twitter bahkan belum ada. Belum ada istilah Social Media, dan orang masih sibuk mengumpulkan testimonial Friendster. Di tahun 2009, media Twitter menjadi penghubung berbagai orang dari berbagai kalangan yang mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan atas serangan 17 Juli 2009. Dan dari media ini, muncul semangat bersama-sama untuk menjadikan Indonesia lebih baik - dan menyatakan Tidak Takut pada aksi terorisme - dalam bentuk #indonesiaunite.
Jadi jawaban judul artikel ini, kenapa nasionalisme, kenapa sekarang apa? Jawabannya adalah: nasionalisme sudah ada dari dulu, tapi tidak bisa keluar. Karena terpancing kemarahan, semangat melawan terorisme dan semangat membuat Indonesia lebih baik, para pengguna Twitter ini menemukan bahwa ternyata banyak yang memiliki semangat yang sama, sehingga lahirlah #indonesiaunite.
Dan timbullah sesuatu yang mungkin sangat unik di Indonesia, mungkin di dunia - sebuah semangat tanpa organisasi, yang bebas diterjemahkan oleh para pendukungnya sejauh sesuai semangat yang sudah dituangkan dalam Amanat Bersama. Semangat yang sengaja tanpa organisasi supaya dapat inklusif ke berbagai pihak, dan sebuah gerakan yang relatif tanpa pemimpin dan tokoh supaya dapat melintasi batas-batas idealisme dan ego masing-masing orang.
Jadi untuk yang belum tahu soal #indonesiaunite, mungkin tidak terlalu penting untuk tahu, sejauh semangatnya sama.
Untuk yang tidak peduli, sekarang saatnya untuk peduli! Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh pemerintah. Kita yang menentukan.
Untuk yang skeptis, jangan malu untuk merasakan cinta bangsa dan negara.
Dan untuk yang masih belum sepenuhnya memahami esensi #indonesiaunite, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu. Untuk "ikut" #indonesiaunite, tidak perlu daftar apa, ke sekretariat apa, atau apapun yang lain. Tinggal berkarya untuk Indonesia.
Selamat berjuang!
Gerakan ini berpegang pada prinsip bahwa #indonesiaunite 'hanya' sebuah semangat, dan tidak akan diformalkan ke dalam sebuah organisasi atau struktur lain. Hal ini pernah juga saya bahas pada blog posting ini beberapa minggu lalu, yang pada intinya menekankan kekuatan #indonesiaunite terletak justru pada sifatnya yang crowdsourcing (belum ada padanan Bahasa Indonesianya nih) dan menyebar secara viral. Untuk yang memperhatikan, sangat terlihat bagaimana semangat #indonesiaunite menyebar secara viral ke berbagai kalangan.
Tapi masih banyak juga kalangan masyarakat yang tidak tahu-menahu mengenai gerakan ini, berhubung informasi mengenai #indonesiaunite praktis lebih banyak menyebar pada kalangan pengguna internet, yang notabene masih relatif belum banyak di Indonesia. Banyak juga kalangan yang tidak peduli karena lebih peduli ke hal lain, apapun itu. Ada juga pihak-pihak yang skeptis, mengatakan bahwa gerakan ini omong kosong belaka, atau mempertanyakan kenapa baru nasionalis setelah ada serangan bom. Bentuk nyatanya apa? tanya mereka.
Adapun kalangan yang baru belakangan tahu mengenai #indonesiaunite, dan pertanyaan mereka pertama adalah "siapa sih yang bikin?" yang agak sulit dijelaskan tanpa menjelaskan Twitter itu apa, ha ha. Pada awalnya pihak media pun masih salah kaprah dengan menilai bahwa #indonesiaunite adalah gagasan satu atau beberapa orang, bukan secara crowdsourcing (yang memang relatif baru di Indonesia). Tapi mudah-mudahan fakta penting mengenai #indonesiaunite ini akan menyebar seiring meningkatnya pemahaman orang mengenai media sosial seperti Twitter dan Facebook.
Nah, saya ingin mencoba memahami sekaligus menawarkan jawaban untuk kalangan-kalangan yang saya sebut di atas.
Generasi saya besar di masa Orde Baru, yang notabene penuh dengan doktrin-doktrin PMP dan P4 dan GBHN dan mahluk-mahluk singkatan hapalan lain, yang seolah disuntikkan ke dalam kepala kita sejak SD. Karena memang pola pendidikannya doktrin, bukan pemahaman, jadi banyak dari kita seolah menolak pendidikan ini. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, yang mungkin berlaku untuk hampir semua mata pelajaran lain selama SD sampai SMA. Kuncinya di sini: karena PMP dan P4 esensinya sangat kuat pada cinta bangsa dan negara, jadi ada bagian dari kita seolah-olah menolak untuk merasakan hal ini. Efeknya? Kalau ada orang yang beneran cinta bangsa dan negara, dianggap aneh. Ada juga hal lain yang penting dalam P4 yang seperti 'ditolak' oleh kita: menghargai hasil karya orang lain.
Padahal sebenarnya, rakyat kita cinta bangsa dan negara kok. Tapi terkadang malu mengungkapkan, kecuali dalam perayaan 17 Agustus, dalam bentuk menjadi panitia atau semacamnya - atau hal-hal kecil lain. Begitu ada yang bicara soal negara, otomatis dianggap mau berpolitik, baik itu di masa Orde Baru maupun setelahnya. Hampir-hampir, kita sampai pada sebuah situasi di mana orang yang terlihat cinta bangsa dan negara hanya para politikus (yang mungkin saja lebih cinta kepentingan kelompoknya), dan para atlit nasional dan daerah (pahlawan modern tanpa tanda jasa).
Susahnya lagi, perseteruan tingkat atas politik dan pemerintahan soal negara membuat makin banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap negara, terlebih lagi dengan adanya stigma bahwa pemerintah tidak melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik (yang mungkin adalah pendapat subyektif, karena terkadang yang kita lihat hanya jeleknya saja).
Lagi-lagi, tetap saja, rakyat Indonesia cinta bangsa kok. Negara mungkin nomer dua. Cuma karena masih ada persepsi bahwa membicarakan bangsa atau negara adalah hal yang sama, lantas pembicaraan nasionalis cenderung terbungkam, terutama dengan naiknya konteks-konteks berbau agama dalam wacana pemikiran nasional. Ini adalah strike three, kalau meminjam istilah baseball - nasionalis dianggap sekular, yang dalam persepsi banyak orang Indonesia, berarti tidak beragama (padahal berarti pemisahan urusan negara dan agama belaka). Padahal, sebagai negara yang 99,99% penduduknya memeluk agama, kita tetap bisa nasionalis tanpa melupakan agama.
Terkena tiga kali sekalipun, rakyat kita masih ada yang berjiwa nasionalis - pahlawan tanpa tanda jasa yang lain adalah generasi entrepreneur - apapun bidangnya - yang dengan caranya sendiri memajukan Indonesia, langkah demi langkah.
Serangan bom demi serangan bom terjadi di Indonesia, yang membuat banyak rakyat bingung dan marah. Ya, betul, pada tiap serangan bom yang sebelum 17 Juli 2009, rakyat Indonesia bingung dan marah, hanya saja energi kemarahan itu seperti ditelan masing-masing, hanya terungkap lewat berbagai tulisan dan karya, yang tidak terhubung.
Bedanya dengan kejadian tahun ini? 4 tahun lalu, Twitter bahkan belum ada. Belum ada istilah Social Media, dan orang masih sibuk mengumpulkan testimonial Friendster. Di tahun 2009, media Twitter menjadi penghubung berbagai orang dari berbagai kalangan yang mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan atas serangan 17 Juli 2009. Dan dari media ini, muncul semangat bersama-sama untuk menjadikan Indonesia lebih baik - dan menyatakan Tidak Takut pada aksi terorisme - dalam bentuk #indonesiaunite.
Jadi jawaban judul artikel ini, kenapa nasionalisme, kenapa sekarang apa? Jawabannya adalah: nasionalisme sudah ada dari dulu, tapi tidak bisa keluar. Karena terpancing kemarahan, semangat melawan terorisme dan semangat membuat Indonesia lebih baik, para pengguna Twitter ini menemukan bahwa ternyata banyak yang memiliki semangat yang sama, sehingga lahirlah #indonesiaunite.
Dan timbullah sesuatu yang mungkin sangat unik di Indonesia, mungkin di dunia - sebuah semangat tanpa organisasi, yang bebas diterjemahkan oleh para pendukungnya sejauh sesuai semangat yang sudah dituangkan dalam Amanat Bersama. Semangat yang sengaja tanpa organisasi supaya dapat inklusif ke berbagai pihak, dan sebuah gerakan yang relatif tanpa pemimpin dan tokoh supaya dapat melintasi batas-batas idealisme dan ego masing-masing orang.
Jadi untuk yang belum tahu soal #indonesiaunite, mungkin tidak terlalu penting untuk tahu, sejauh semangatnya sama.
Untuk yang tidak peduli, sekarang saatnya untuk peduli! Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh pemerintah. Kita yang menentukan.
Untuk yang skeptis, jangan malu untuk merasakan cinta bangsa dan negara.
Dan untuk yang masih belum sepenuhnya memahami esensi #indonesiaunite, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu. Untuk "ikut" #indonesiaunite, tidak perlu daftar apa, ke sekretariat apa, atau apapun yang lain. Tinggal berkarya untuk Indonesia.
Selamat berjuang!
Sunday, August 2, 2009
Pekerjaan, Kepuasan, dan Kesetimbangan
Belakangan gue banyak ngobrol sama Saskia, dan banyak temen-temen gue, untuk mencoba meluruskan segala benang kusut yang udah menumpuk di hati dan otak beberapa tahun ini. Memang, hidup di Jakarta - atau mungkin, hidup di mana aja jaman sekarang - lebih banyak chaosnya ketimbang yang teratur.. ya paling tidak untuk gue sendiri.
Tapi ya ternyata beberapa teman baik yang gue ajak ngobrol, sedang mengalami hal-hal yang kurang lebih sama dengan yang gue alami sekarang - kebanyakan kerjaan, kepuasan yang didapatkan dari pekerjaan berkurang, semangat turun - yang pastinya akan merembet ke hal-hal lain dan mempengaruhi kinerja.
Paling tidak sih gue agak terhibur karena ternyata bukan gue yang menjadi gila, tapi memang gejala jaman aja kali ya, terutama buat temen-temen dalam situasi yang hampir sama dengan gue.
Bertahun-tahun lalu gue pernah bilang ke sahabat gue, bahwa kerja ya kerja aja, karena kerja bukan hidup. Nggak usah cari kerjaan yang bener-bener ideal dengan keinginan kita, karena yang pertama pasti susah dapet yang bener-bener pas, kedua ya, hidup nggak kerja doang kok - jadi pastiin apa yang lu kerjain bisa melengkapi hidup lu.
Gue tarik balik sedikit deh perkataan itu ya. Kalau kita sudah sampai pada tingkatan tertentu di pekerjaan, bisa itu gaji cukup atau kedudukan/tanggung jawab sesuai keinginan, ternyata nanti ada satu hal lagi yang bisa 'menghancurkan' dua hal itu: kepuasan bekerja. The passion for work, job satisfaction. Atau malah, satisfaction aja.
Yang kita cari tuh apa sih sebenernya dengan bekerja? Biar bisa bawa pulang uang, yang nanti akan dipakai untuk beli ini-itu? Percaya deh, mau gaji berapapun, pasti ada aja kurangnya, nggak bisa ini lah, nggak bisa itu lah. Nggak bisa ganti HP, nggak bisa liburan ke Singapur, nggak bisa makan sushi, nggak bisa beli baju baru.... kita udah terpola konsumtif, jadi pasti adaaa aja yang tidak terpenuhi. Padahal sisi konsumtif itu untuk apa sih? Pastinya, untuk kepuasan diri juga.
Setelah proses yang gue lalui bertahun-tahun, gue punya kesimpulan ini untuk diri sendiri: kerjakan apapun yang memberi kepuasan pada diri lu, tapi pastinya, lu harus tau definisinya kepuasan itu apa pada diri lu. Apa itu perut kenyang tiap malam? Bisa punya BB? Anak bisa sekolah sampai lulus kuliah? Perdamaian dunia? Itu aja didefinisikan dulu. Buat gue sendiri aja itu cukup susah, dan gue yakin masih banyak yang masih sulit mendefinisikan kepuasannya sendiri tanpa terganggu oleh berbagai faktor external.
Nah, kalau udah tau dapat kepuasan dari mana, baru bisa tuh, disusun lagi dari awal, bagian-bagian puzzle yang menjadi hidup kita. Kerjanya apa, hobinya apa, hidup di rumah kayak apa, dan bagaimana menyeimbangkan itu semua. Bukan proses gampang; tapi kalau kita sudah mengenali kebutuhan akan kesetimbangan itu, pasti lebih mudah. Gue sendiri pelan-pelan masih di tahap awal. Pokoknya, prinsipnya adalah, hidup kita adalah sebuah lingkaran utuh; tinggal kita atur porsi-porsinya di dalam lingkaran itu. Kalau ada yang kebanyakan, nanti yang lain berkurang, atau malah merusak bentuk lingkaran tersebut.
Nah, paling mudah dan ideal adalah, bekerja sesuai passion kita, kalau mau lingkaran itu penuh. Tergantung juga sih, definisi kepuasan tadi apa ya.
Mundur sedikit ya. Gue sendiri, dan mungkin temen-temen gue yang gue ajak ngobrol, mengalami beban luar biasa dan kejenuhan dan berbagai gejala lain, yang, terlepas dari faktor external, disebabkan oleh kurang mendapat kepuasan bekerja. Akarnya di situ.
Pilihannya cuma tiga:
1. kurangi ekspektasi kita akan kepuasan di pekerjaan tersebut. Tapi ini yang membuat banyak orang menjadi 'zombie' di pekerjaannya.
2. cari jalan keluar, supaya kepuasan bekerjanya bisa meningkat.
3. kalo mentok juga, ya cari kerjaan lain... tapi jangan sampai terjebak di lingkaran setan yang sama.
Perlu diingat juga, prioritas kita dalam hidup itu pasti sewaktu-waktu berubah, karena toh kita pasti tumbuh dan berubah. Maka dari itu, definisi kepuasannya juga pasti perlu diteliti lagi sewaktu-waktu, supaya kesetimbangan hidup tetap terjaga.
Perjuangan hidup terbesar sepertinya menjaga kesetimbangan itu terus ya, terutama dengan berbagai faktor external yang positif dan negatif yang pasti akan 'mengganggu' dengan caranya sendiri.
Untuk saat ini, kepuasan gue bisa didapat dari:
- berkreasi, dan melihat kreasi itu jadi kenyataan. apapun bentuknya
- manfaat, di luar manfaat finansial seperti gaji, bonus dll. Lebih ke pekerjaannya ada manfaatnya untuk orang lain, bisa itu keluarga, bisa itu bangsa atau negara, ataupun diri sendiri.
- amal. tabungan duniawi dapet kalau bekerja keras dan pintar, tapi gimana caranya tabungan surgawi juga dapet? Gue bukan santri atau orang yang cenderung agamis, tapi karena gue percaya kerja itu ibadah, mbok ya kerjaan gue emang beneran punya nilai amal. Kalau kerja adalah ibadah tapi buat dapetin pahala doang, kok egois ya rasanya.
Satu lagi pemikiran yang keluar: karena kerjaan itu ibadah, kita harus kerja dengan hati senang, kalo nggak, nilai ibadahnya berkurang.
Gue menulis ini bukan sok-sokan ngasih nasihat atau apa, tapi mencoba menulis apa yang sudah menjadi pikiran gue beberapa bulan ini - mudah-mudahan bermanfaat juga ke orang lain.
Tapi ya ternyata beberapa teman baik yang gue ajak ngobrol, sedang mengalami hal-hal yang kurang lebih sama dengan yang gue alami sekarang - kebanyakan kerjaan, kepuasan yang didapatkan dari pekerjaan berkurang, semangat turun - yang pastinya akan merembet ke hal-hal lain dan mempengaruhi kinerja.
Paling tidak sih gue agak terhibur karena ternyata bukan gue yang menjadi gila, tapi memang gejala jaman aja kali ya, terutama buat temen-temen dalam situasi yang hampir sama dengan gue.
Bertahun-tahun lalu gue pernah bilang ke sahabat gue, bahwa kerja ya kerja aja, karena kerja bukan hidup. Nggak usah cari kerjaan yang bener-bener ideal dengan keinginan kita, karena yang pertama pasti susah dapet yang bener-bener pas, kedua ya, hidup nggak kerja doang kok - jadi pastiin apa yang lu kerjain bisa melengkapi hidup lu.
Gue tarik balik sedikit deh perkataan itu ya. Kalau kita sudah sampai pada tingkatan tertentu di pekerjaan, bisa itu gaji cukup atau kedudukan/tanggung jawab sesuai keinginan, ternyata nanti ada satu hal lagi yang bisa 'menghancurkan' dua hal itu: kepuasan bekerja. The passion for work, job satisfaction. Atau malah, satisfaction aja.
Yang kita cari tuh apa sih sebenernya dengan bekerja? Biar bisa bawa pulang uang, yang nanti akan dipakai untuk beli ini-itu? Percaya deh, mau gaji berapapun, pasti ada aja kurangnya, nggak bisa ini lah, nggak bisa itu lah. Nggak bisa ganti HP, nggak bisa liburan ke Singapur, nggak bisa makan sushi, nggak bisa beli baju baru.... kita udah terpola konsumtif, jadi pasti adaaa aja yang tidak terpenuhi. Padahal sisi konsumtif itu untuk apa sih? Pastinya, untuk kepuasan diri juga.
Setelah proses yang gue lalui bertahun-tahun, gue punya kesimpulan ini untuk diri sendiri: kerjakan apapun yang memberi kepuasan pada diri lu, tapi pastinya, lu harus tau definisinya kepuasan itu apa pada diri lu. Apa itu perut kenyang tiap malam? Bisa punya BB? Anak bisa sekolah sampai lulus kuliah? Perdamaian dunia? Itu aja didefinisikan dulu. Buat gue sendiri aja itu cukup susah, dan gue yakin masih banyak yang masih sulit mendefinisikan kepuasannya sendiri tanpa terganggu oleh berbagai faktor external.
Nah, kalau udah tau dapat kepuasan dari mana, baru bisa tuh, disusun lagi dari awal, bagian-bagian puzzle yang menjadi hidup kita. Kerjanya apa, hobinya apa, hidup di rumah kayak apa, dan bagaimana menyeimbangkan itu semua. Bukan proses gampang; tapi kalau kita sudah mengenali kebutuhan akan kesetimbangan itu, pasti lebih mudah. Gue sendiri pelan-pelan masih di tahap awal. Pokoknya, prinsipnya adalah, hidup kita adalah sebuah lingkaran utuh; tinggal kita atur porsi-porsinya di dalam lingkaran itu. Kalau ada yang kebanyakan, nanti yang lain berkurang, atau malah merusak bentuk lingkaran tersebut.
Nah, paling mudah dan ideal adalah, bekerja sesuai passion kita, kalau mau lingkaran itu penuh. Tergantung juga sih, definisi kepuasan tadi apa ya.
Mundur sedikit ya. Gue sendiri, dan mungkin temen-temen gue yang gue ajak ngobrol, mengalami beban luar biasa dan kejenuhan dan berbagai gejala lain, yang, terlepas dari faktor external, disebabkan oleh kurang mendapat kepuasan bekerja. Akarnya di situ.
Pilihannya cuma tiga:
1. kurangi ekspektasi kita akan kepuasan di pekerjaan tersebut. Tapi ini yang membuat banyak orang menjadi 'zombie' di pekerjaannya.
2. cari jalan keluar, supaya kepuasan bekerjanya bisa meningkat.
3. kalo mentok juga, ya cari kerjaan lain... tapi jangan sampai terjebak di lingkaran setan yang sama.
Perlu diingat juga, prioritas kita dalam hidup itu pasti sewaktu-waktu berubah, karena toh kita pasti tumbuh dan berubah. Maka dari itu, definisi kepuasannya juga pasti perlu diteliti lagi sewaktu-waktu, supaya kesetimbangan hidup tetap terjaga.
Perjuangan hidup terbesar sepertinya menjaga kesetimbangan itu terus ya, terutama dengan berbagai faktor external yang positif dan negatif yang pasti akan 'mengganggu' dengan caranya sendiri.
Untuk saat ini, kepuasan gue bisa didapat dari:
- berkreasi, dan melihat kreasi itu jadi kenyataan. apapun bentuknya
- manfaat, di luar manfaat finansial seperti gaji, bonus dll. Lebih ke pekerjaannya ada manfaatnya untuk orang lain, bisa itu keluarga, bisa itu bangsa atau negara, ataupun diri sendiri.
- amal. tabungan duniawi dapet kalau bekerja keras dan pintar, tapi gimana caranya tabungan surgawi juga dapet? Gue bukan santri atau orang yang cenderung agamis, tapi karena gue percaya kerja itu ibadah, mbok ya kerjaan gue emang beneran punya nilai amal. Kalau kerja adalah ibadah tapi buat dapetin pahala doang, kok egois ya rasanya.
Satu lagi pemikiran yang keluar: karena kerjaan itu ibadah, kita harus kerja dengan hati senang, kalo nggak, nilai ibadahnya berkurang.
Gue menulis ini bukan sok-sokan ngasih nasihat atau apa, tapi mencoba menulis apa yang sudah menjadi pikiran gue beberapa bulan ini - mudah-mudahan bermanfaat juga ke orang lain.
Monday, July 20, 2009
Essay: The Importance Of #indonesiaunite
Well of course, the #indonesiaunite movement that started through Twitter was initially part of a reaction towards the bombings of JW Marriot and Ritz-Carlton last Friday. But in mere hours, #indonesiaunite has morphed into a wave of nationalism that has not been seen since the 1998 demonstrations that brought down Soeharto.
Because of the high profile #indonesiaunite has received through Twitter's Trending Topics (and reached no.1 several times), many Indonesian twitterers have been stating the virtues of Indonesia in 140 characters or less. Whether it be the exotic islands and culture, the culinary adventures, or even imperfect sides like Jakarta's seemingly constant traffic jams, Indonesians have been pushing out positive messages and promoting their own country.
It would seem that, as I had said in a previous tweet, that all the closet nationalists have come out and made themselves heard. Of course, in such a diverse country like this, some naysayers or skeptics are questioning on whether that #indonesiaunite is just a fad, or is it something that would actually matter.
Well here's my thought. Most of us bloggers and twitterers aren't in the armed forces, so we don't know anything about physically defending the country. Many of us aren't politicians, legislators or bureaucrats either, so there is not yet anything concrete we can do to make Indonesia better. Most of us are still in school or are simple employees, so we do not have the capital to fund something significant.
Yet we all do recognize something - the power of viral communication. I might only be able to persuade, say 5 people around be aware of the spirit of #indonesiaunite, but if all the Indonesian users of Twitter could do the same thing, we'd have a small yet growing thing going.
The message of #indonesiaunite is simple yet it might be different for every person - that is why it is a potent force to begin with. It is time that we all rediscover our love of country, and make sure we rekindle it in others too!
You could say that #indonesiaunite is a political movement, because, up to today, it has not morphed into, say, a non-governmental organization. I would say no to such thing, because to institutionalize an idea like this would be to kill the idea itself. Organizations need leaders, but yet #indonesiaunite has no leader other than the concept itself.
#indonesiaunite has, in the span of 3-4 days, become a uniquely 21st century movement - a wholly crowdsourced movement where each and every participant contributes equally to the strength of the movement.
Whether or not the #indonesiaunite spirit can be transferred offline, as has been the discussion for the past 2 days, and properly infused into the general public psyche, remains to be seen. Such a direction may need more traditional approaches. Nevertheless, one may hope that when historians look back on the moment where Indonesia picked itself up and flew into the future, it would not be because of one person or a group of people, it would be because of #indonesiaunite.
Only together we can change this country for the better. Indonesia unite!
Because of the high profile #indonesiaunite has received through Twitter's Trending Topics (and reached no.1 several times), many Indonesian twitterers have been stating the virtues of Indonesia in 140 characters or less. Whether it be the exotic islands and culture, the culinary adventures, or even imperfect sides like Jakarta's seemingly constant traffic jams, Indonesians have been pushing out positive messages and promoting their own country.
It would seem that, as I had said in a previous tweet, that all the closet nationalists have come out and made themselves heard. Of course, in such a diverse country like this, some naysayers or skeptics are questioning on whether that #indonesiaunite is just a fad, or is it something that would actually matter.
Well here's my thought. Most of us bloggers and twitterers aren't in the armed forces, so we don't know anything about physically defending the country. Many of us aren't politicians, legislators or bureaucrats either, so there is not yet anything concrete we can do to make Indonesia better. Most of us are still in school or are simple employees, so we do not have the capital to fund something significant.
Yet we all do recognize something - the power of viral communication. I might only be able to persuade, say 5 people around be aware of the spirit of #indonesiaunite, but if all the Indonesian users of Twitter could do the same thing, we'd have a small yet growing thing going.
The message of #indonesiaunite is simple yet it might be different for every person - that is why it is a potent force to begin with. It is time that we all rediscover our love of country, and make sure we rekindle it in others too!
You could say that #indonesiaunite is a political movement, because, up to today, it has not morphed into, say, a non-governmental organization. I would say no to such thing, because to institutionalize an idea like this would be to kill the idea itself. Organizations need leaders, but yet #indonesiaunite has no leader other than the concept itself.
#indonesiaunite has, in the span of 3-4 days, become a uniquely 21st century movement - a wholly crowdsourced movement where each and every participant contributes equally to the strength of the movement.
Whether or not the #indonesiaunite spirit can be transferred offline, as has been the discussion for the past 2 days, and properly infused into the general public psyche, remains to be seen. Such a direction may need more traditional approaches. Nevertheless, one may hope that when historians look back on the moment where Indonesia picked itself up and flew into the future, it would not be because of one person or a group of people, it would be because of #indonesiaunite.
Only together we can change this country for the better. Indonesia unite!
Sunday, July 19, 2009
Komentar Subyektif Tentang Serangan 17 Juli 2009
Ternyata gue nggak bisa tinggal diam. Tadinya gue nggak mau berkomentar apa-apa, hanya berduka untuk keluarga-keluarga yang terkena musibah serangan teroris di Ritz Carlton dan JW Marriot Jumat kemarin, dan menggenapkan semangat untuk tidak takut pada serangan teroris.
Tapi baru lewat 3 hari, udah makin aneh omongan orang di media.
Pertama, presscon Presiden SBY hari Jumat, yang malah membahas ada upaya menghentikan beliau dilantik. Gue masih agak bisa menerima ini sebagai upaya menggambarkan ke masyarakat Indonesia bahwa banyak orang yang berupaya mengacaukan perdamaian di Indonesia; beliau pun bilang belum tentu terkait. Namun, hal ini langsung ditanggapi tim Mega-Prabowo sebagai sesuatu yang salah, bla bla bla... sambil mereka menyatakan juga, serangan bom jangan dipolitisir. Menurut gue, ga usah komentar dulu kalo ga mau memperkeruh suasana.
Terus, media luar (dan mungkin pernyataan dari beberapa perwira) bahwa serangan-serangan tersebut terkait dengan Jemaah Islamiyah. Terlalu dini untuk menyimpulkan itu, karena bukti (paling tidak yang sudah diberitakan di media massa) belum konklusif, dan tidak ada pernyataan dari JI sendiri. Biarkan polisi bekerja. Kalau memang ternyata JI, ya kita liat buktinya saja. Kalau bukan, ya biarkan bukti yang bicara, karena orang bisa ngomong apa aja.
Lalu ada sang pakar telematika yang bilang, teroris pasti nggak pakai internet untuk melakukan serangan. Gue nggak mau komentar deh yang satu ini.
Nah sekarang, Tim Pengacara Muslim, yang entah kenapa harus menegaskan bagian 'Muslim'nya, mengeluarkan pernyataan bahwa serangan bom Kuningan tidak berkaitan dengan JI, dan meminta kepolisian tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa serangan terkait dengan jaringan Islam tertentu.
Sekarang gue balik deh. Fakta yang sudah diberitakan adalah, walaupun modus operandi baru, cara rakitan bom identik dengan serangan-serangan lain yang sudah dibuktikan terkait dengan JI. Nggak berarti udah pasti JI sih, tapi belum tentu juga bukan JI. Mentang-mentang namanya 'Jemaah Islamiyah' (yang menurut gue, nama itu adalah rekaan media Barat) jadi harus dibela sama TPM. Kalau JI memang ada, harus dibela? Karena mereka bunuh orang atas nama Islam, harus dibela? Islam itu kuat kok, dan Islam itu suci. Nggak berarti orang Islam itu pasti nggak salah kan. TPM bilang jangan berspekulasi, tapi bilang juga bahwa tidak terkait JI. Ah, gimana sih.
Kita perlu memberi ruang dan waktu untuk membiarkan para aparat menyelesaikan penyelidikan, dan tugas kita sebagai warga negara adalah terus membangun Indonesia. Indonesia akan maju bukan karena pemerintahannya saja, tapi karena rakyatnya juga. Rakyatnya yang bersatu demi bangsanya. Kayaknya udah nggak jamannya lagi kita terlalu membedakan antara suku, agama, ras dan... satu lagi apa sih... ya itu deh.
Indonesiaunite!
Tapi baru lewat 3 hari, udah makin aneh omongan orang di media.
Pertama, presscon Presiden SBY hari Jumat, yang malah membahas ada upaya menghentikan beliau dilantik. Gue masih agak bisa menerima ini sebagai upaya menggambarkan ke masyarakat Indonesia bahwa banyak orang yang berupaya mengacaukan perdamaian di Indonesia; beliau pun bilang belum tentu terkait. Namun, hal ini langsung ditanggapi tim Mega-Prabowo sebagai sesuatu yang salah, bla bla bla... sambil mereka menyatakan juga, serangan bom jangan dipolitisir. Menurut gue, ga usah komentar dulu kalo ga mau memperkeruh suasana.
Terus, media luar (dan mungkin pernyataan dari beberapa perwira) bahwa serangan-serangan tersebut terkait dengan Jemaah Islamiyah. Terlalu dini untuk menyimpulkan itu, karena bukti (paling tidak yang sudah diberitakan di media massa) belum konklusif, dan tidak ada pernyataan dari JI sendiri. Biarkan polisi bekerja. Kalau memang ternyata JI, ya kita liat buktinya saja. Kalau bukan, ya biarkan bukti yang bicara, karena orang bisa ngomong apa aja.
Lalu ada sang pakar telematika yang bilang, teroris pasti nggak pakai internet untuk melakukan serangan. Gue nggak mau komentar deh yang satu ini.
Nah sekarang, Tim Pengacara Muslim, yang entah kenapa harus menegaskan bagian 'Muslim'nya, mengeluarkan pernyataan bahwa serangan bom Kuningan tidak berkaitan dengan JI, dan meminta kepolisian tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa serangan terkait dengan jaringan Islam tertentu.
Sekarang gue balik deh. Fakta yang sudah diberitakan adalah, walaupun modus operandi baru, cara rakitan bom identik dengan serangan-serangan lain yang sudah dibuktikan terkait dengan JI. Nggak berarti udah pasti JI sih, tapi belum tentu juga bukan JI. Mentang-mentang namanya 'Jemaah Islamiyah' (yang menurut gue, nama itu adalah rekaan media Barat) jadi harus dibela sama TPM. Kalau JI memang ada, harus dibela? Karena mereka bunuh orang atas nama Islam, harus dibela? Islam itu kuat kok, dan Islam itu suci. Nggak berarti orang Islam itu pasti nggak salah kan. TPM bilang jangan berspekulasi, tapi bilang juga bahwa tidak terkait JI. Ah, gimana sih.
Kita perlu memberi ruang dan waktu untuk membiarkan para aparat menyelesaikan penyelidikan, dan tugas kita sebagai warga negara adalah terus membangun Indonesia. Indonesia akan maju bukan karena pemerintahannya saja, tapi karena rakyatnya juga. Rakyatnya yang bersatu demi bangsanya. Kayaknya udah nggak jamannya lagi kita terlalu membedakan antara suku, agama, ras dan... satu lagi apa sih... ya itu deh.
Indonesiaunite!
Tuesday, May 12, 2009
Upgrading Macbook HDD - My Experience
I have a 1st generation Black Macbook that's at least already 2 years old, but still going strong. I haven't upgraded to Leopard, either - don't feel like spending that much money. Then again, I did spend almost the same amount of money yesterday on something more immediate - upgrading the harddisk!
After doing a much-needed RAM upgrade last year (to 2 GB, which is the max for this model), I used up my yearly bonus and splurged on the upgrade. Indowebstore was offering good prices on internal HDDs for MacBooks, so I contacted them and they agreed to pick up the MB from work, install the new HDD, and deliver it back to the office. There's a catch though - they won't do any data backups for you, and won't move the data from the old HDD to the new one. I think this is pretty reasonable as every customer would have different preferences on what they want to do with their data.
This left me with a small problem - how to transfer the data? I first simply copied all the user files to an external harddisk I borrowed from my wife, but copying the OS and applications was a problem. After asking around, I was introduced to SuperDuper! which is a pretty simple program. Just choose your source disk, and select your target disk. So I did that. After days of agonizing and tweaking the configuration, and asking around again, apparently the problem was that the backup was done over USB - which is simply too slow for copying 80 GB of data. The only option was via Firewire - and I don't have an external Firewire drive.
This time I just searched the web for an answer, and found this article. It was certainly helpful - although I would of preferred to be able to ask someone directly about this.
So following the instructions on the website, I send the MB to the store for installment, and asked them to install a Firewire enclosure for the old HDD. Unfortunately, they didn't have any in stock, and I spend my lunchtime scouring Ratu Plaza to no avail.
I had to ask someone again, and the id-mac mailing list was very helpful - apparently the JakartaNotebook.com store was walking distance from my office, so I walked over and bought myself the Firewire enclosure. Not long after I reached the office, the MB arrived with its new HDD!
When I reached home, I followed the instructions on how to start the MB from an external Firewire drive, format and partition the new HDD, and then use SuperDuper!to copy the contents of the old HDD to the new HDD. A few hours later, the MB with a new HDD is ready to go!
I spend a few early hours organizing the data and transferring stuff from external HDDs that were getting too full, and now my eyes are a bit puffy :P
Well, that's my story folks, hopefully it will be useful to someone else.
After doing a much-needed RAM upgrade last year (to 2 GB, which is the max for this model), I used up my yearly bonus and splurged on the upgrade. Indowebstore was offering good prices on internal HDDs for MacBooks, so I contacted them and they agreed to pick up the MB from work, install the new HDD, and deliver it back to the office. There's a catch though - they won't do any data backups for you, and won't move the data from the old HDD to the new one. I think this is pretty reasonable as every customer would have different preferences on what they want to do with their data.
This left me with a small problem - how to transfer the data? I first simply copied all the user files to an external harddisk I borrowed from my wife, but copying the OS and applications was a problem. After asking around, I was introduced to SuperDuper! which is a pretty simple program. Just choose your source disk, and select your target disk. So I did that. After days of agonizing and tweaking the configuration, and asking around again, apparently the problem was that the backup was done over USB - which is simply too slow for copying 80 GB of data. The only option was via Firewire - and I don't have an external Firewire drive.
This time I just searched the web for an answer, and found this article. It was certainly helpful - although I would of preferred to be able to ask someone directly about this.
So following the instructions on the website, I send the MB to the store for installment, and asked them to install a Firewire enclosure for the old HDD. Unfortunately, they didn't have any in stock, and I spend my lunchtime scouring Ratu Plaza to no avail.
I had to ask someone again, and the id-mac mailing list was very helpful - apparently the JakartaNotebook.com store was walking distance from my office, so I walked over and bought myself the Firewire enclosure. Not long after I reached the office, the MB arrived with its new HDD!
When I reached home, I followed the instructions on how to start the MB from an external Firewire drive, format and partition the new HDD, and then use SuperDuper!to copy the contents of the old HDD to the new HDD. A few hours later, the MB with a new HDD is ready to go!
I spend a few early hours organizing the data and transferring stuff from external HDDs that were getting too full, and now my eyes are a bit puffy :P
Well, that's my story folks, hopefully it will be useful to someone else.
Thursday, May 7, 2009
Balance
It's all about balance.
If the company needs you more than you need them, it's time to think about options.
If you need the company more than it needs you, better shut up and do your job properly.
If the need level is mutual, then it makes sense.
If the company needs you more than you need them, it's time to think about options.
If you need the company more than it needs you, better shut up and do your job properly.
If the need level is mutual, then it makes sense.
Subscribe to:
Posts (Atom)