Friday, January 29, 2010

Reflecting And Hoping

It’s been a while since I really sat down and wrote something for this blog. Well, something about me, rather than my opinions about #indonesiaunite and all…

I know it’s rather commonplace today, where [almost] everybody has a blog, Twitter account, and Facebook page… but I would like to mention that I have been blogging for 5 years.

Let that sink in. Five. Years.

Five years of continuing to write – I’ll use the term ‘continuing’ loosely, as lately most of my writing has been more exclusively via Twitter. I guess not all thoughts require a rambling, 10-paragraph blog post. But still, it is needed sometimes, and therefore the blog will not die. The blog will evolve somewhat, just as my blog has evolved for the past 5 years. It used to be on Blogspot, then I got active on Multiply, and now it’s on WordPress where it will hopefully will stay. I have maintained all three with the same content as they cater to different, if somewhat minuscule, audiences.

The blog itself has changed names twice (if you don’t count the modifications to the name when moving to new blog services), from ‘A New Leaf’ to ‘Positivity’. The blog’s name and title, still reminds me on what I should be, and what I was before.

Then again, it’s a bit startling to read blog posts from 3 or 4 years ago – I surprise myself with my own writing. It seems to have been written by another person, although I know for a fact that I wrote it myself. Has my writing improved? I don’t know, the reader is the judge.

And this blog, with its various incarnations, has accompanied me through many, many things – although I never have directly written what was going on as a personal journal would entail, I think the ramblings, thoughts and statements suffice enough to give the reader a picture of what’s going on. And also, still, not everything can be talked about on a blog, haha. That said, there is a lot of stuff that I wish I could write about here – but some stories are better told directly and verbally :)

What will the next 5 years bring for me, and in turn show up on my blog? We’ll see. As wise men say, man may plan, but God is the one who decides…

Happy new year, everybody.


[originally posted Jan 9, 2010 here]

Sunday, December 20, 2009

Koin Untuk Keadilan – Dan People Power 2.0

Hari ini, konser Koin Untuk Keadilan diselenggarakan di Hard Rock Cafe, Jakarta, sebuah acara yang merupakan sebuah inisiatif para musisi, label dan profesional media untuk menggalang dana untuk Prita Mulyasari (pada awalnya) dan berubah jadi salah satu acara simbol generasi muda Indonesia melawan ketidakadilan.

Berhubungan atau tidak, kita melihat sebuah pergerakan baru generasi muda Indonesia untuk mengangkat sebuah isu sosial, dengan cara yang jauh lebih ‘media-friendly’, yang mulai terlihat pertengahan Juli lalu. Barisan-barisan demonstran sudah mulai ditinggalkan, karena ekspresi orasi di jalanan sudah dimiliki berbagai rombongan yang lain, yang suaranya cenderung hilang di antara berita macet dan klakson mobil.

Mengangkat sebuah isu yang harus disosialisasikan dan didukung ternyata bisa dilakukan secara lebih simpatik dan efektif – melalui media, melalui seni, dan dengan bahasa yang lebih moderat dan dapat diterima orang kebanyakan.

Seorang kawan pernah bertanya, mengapa semua orang mengumpulkan koin untuk Prita? Apa kabar berbagai ketidakadilan lain yang sudah marak di Indonesia? Yang harus kita tanya, aoa yang membuat kasus ibu Prita Mulyasari berbeda dengan berbagai kasus dan berita lain yang tiap hari muncul?

Pengumpulan koin untuk Prita yang berhasil mencapai Rp 650 juta itu memberikan sebuah jalur ekspresi untuk orang dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat – untuk melawan ketidakadilan. Seseorang yang hanya memiliki keping uang Rp 100 pun, bisa menyerahkan koin ke tempat koleksi, dan berkata, ‘Saya, hari ini, telah berjuang melawan ketidakadilan’. Sumbangan dari siapapun, dan sebanyak apapun, mempunyai arti kolektif yang kuat: bahwa bersama-sama, kita bisa membuat sebuah langkah perbedaan; tidak perlu pansus atau tim pencari fakta.

Kuncinya mudah: berikan sebuah jalur ekspresi yang mudah dilakukan oleh banyak orang, untuk berbagai alasan – misalnya, menyumbang koin, atau memakai batik – dan kita akan lihat bahwa ternyata masyarakat Indonesia, hari ini, ternyata tidak setidakberdaya dan apatis yang dikira.

Gerakan Koin Keadilan untuk Prita bergerak secara lebih cerdas, lebih cermat dan lebih mendalam jika dibandingkan berbagai tuntutan protes gerombolan massa yang hampir tiap hari menyambangi berbagai instansi dan lokasi lain. Kenapa? Karena opini publik bisa terbentuk, dan publik juga diberikan cara untuk mendukung yang mudah.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum kepada pencetus kampanye Koin Keadilan untuk Prita beserta berbagai aktivitasnya, gerakan ini hanya akan sebesar ini jika didulung oleh banyak orang yang bergerak secara bersama-sama, dengan premis yang sederhana, dan tujuan jelas. People Power 2.0 ditentukan oleh konsep komunikasi yang jelas dan cara terlibat yang mudah, ketimbang didasarkan konsep politik atau filosofis yang mendalam yang diperkuat jumlah massa yang besar.

Penekanan pada kesederhanaan cara berpartisipasi sebenarnya sudah ada semenjak pita merah untuk kewaspadaan HIV/AIDS (atau malah sebelumnya), gelang karet Livestrong, sampai kampanye Product Red. Namun perlawanan rakyat melawan apatisme dirinya sendiri, untuk melawan terorisme, membanggakan batik, sampai mengumpulkan koin untuk melawan ketidakadilan, merupakan fenomena yang cukup baru dan menggembirakan di Indonesia.

Dukungan menggebu-gebu profesional musisi, media dan industri musik untuk konser hari ini merupakan salah satu perwujudannya – dan akan melaksanakan tugasnya yang utamanya, yaitu: menginspirasi orang bahwa siapapun dapat bertidak dan melawan ketidakadilan, sekecil atau sebesar apapun kontribusinya. Karena musuh terbesar masyarakat Indonesia sekarang bukan penjajah asing, tapi penjajah yang adalah saudara sendiri.

Kita yang berbuat, tidak perlu menunggu pemerintah atau Presiden berbuat. Dengan kekuatan crowdsourcing, tujuan yang jelas dan dapat didukung akan muncul dengan sendirinya melalui diskusi sehat dan terbuka. Dan ekspresi dukungan pun bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Hari ini saya bangga berbangsa Indonesia – dan saya lebih senang lagi bahwa perjuangan demi bangsa dan negara yang lebih baik, ternyata ada di benak banyak orang secara serempak. Energi sudah ada, jadi mari kita tuangkan dalam apapun yang menurut kita akan membuat negeri ini lebih baik. Setiap ‘koin’ yang kita sumbangkan demi bangsa, akan berarti banyak untuk bangsa secara keseluruhan. Nggak perlu lihat atau hitung siapa menyumbang berapa, yang penting sumbangannya dulu. Dengan cara ini, mudah-mudahan, orang-orang yang konon katanya pemimpin bangsa kita, akan tergerak untuk kembali melihat gambaran besar membangun bangsa, dan tidak membiarkan negeri ini tertelan dan tenggelam oleh hisapan politik busuk.

Perjuangan masih berlanjut, kawan!

Friday, October 02, 2009

Batik, Revolusi, dan #IndonesiaUnite

Hari ini, 2 Oktober 2009, batik akan diresmikan oleh UNESCO sebagai World Heritage dari Indonesia. Tepatnya batik tulis sih, tapi ya batik. Banyak masyarakat Indonesia akan merayakan hal ini, dan turut bangga akan warisan budayanya, dengan menggunakan batik pada hari ini. Berhubung gue belum berangkat dari rumah, kita lihat saja seberapa banyak orang pakai batik.

Masih belum jam 8 pagi, udah banyak orang yang mempertanyakan; "jangan-jangan euphoria sesaat" atau "kalau cuma sehari pakai batik, nggak ada gunanya". Sangat valid kok pertanyaan-pertanyaan tersebut kok. Sudah terlalu banyak contoh dan kejadian di mana kebanggaan berbangsa Indonesia terlarut dalam berbagai kegiatannya masing-masing setelah semangat menggebu-gebu beberapa saat (seperti halnya yang dikatakan terjadi atau akan terjadi dengan #indonesiaunite).

Memang memakai batik nggak akan tiba-tiba merubah rakyat kita menjadi lebih baik, pemerintah melayani rakyat lebih baik, rakyat yang di Sumatera Barat yang baru kena musibah bisa cepat tertanggulangi. Make batik sehari cuma akan mengganti apa yang kita pakai hari ini, dan kita kemungkinan besar akan memakai kembali kaos bermerk luar kita pada hari besoknya (walaupun mungkin tetap buatan Indonesia).

Tapi 'Hari Pakai Batik' sudah melakukan apa yang gagal dilakukan oleh doktrin PMP ke beberapa generasi, bahkan sesuatu yang hanya sedikit berhasil oleh #indonesiaunite, yaitu - kembali mengedepankan bangga menjadi bangsa Indonesia ke dalam kesadaran umum khayalak ramai.

Sedikit mundur ke sejarah Indonesia ya. Revolusi dan proklamasi kemerdekaan bangsa kita tidak akan terjadi kalau tidak didukung faktor kekalahan Jepang di PD II yang menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia, tidak hadirnya Belanda ataupun pasukan Sekutu di Indonesia, dan semangat generasi '45 yang cepat mengambil kesempatan untuk menyatakan proklamasi kemerdekaan. Memang bangsa kita merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, tapi kalau kita meriset sedikit, sebagian besar dunia baru mengakui kemerdekaan Indonesia terjadi tahun 1949. Intinya, setelah kita memproklamirkan kemerdekaan pun, gerakan revolusi tetap harus berjuang penuh sampai 1949 hingga diakui dunia.

Perjuangan hari ini mungkin bukan berupa perjuangan fisik dengan senjata dan pergerakan prajurit - tapi tidak berarti bukan perjuangan. Perjuangan hari ini adalah merebut perhatian masyarakat Indonesia dan dunia, di dunia yang begitu penuh kebisingan informasi ini, untuk mengingat dan turut berbangga berbangsa Indonesia. Untuk hari ini, perwujudan perjuangan itu adalah menganjurkan rakyat Indonesia untuk memakai batik.

Semangat #indonesiaunite yang sepertinya sudah tidak terlalu terlihat, sebenarnya sudah mencapai misinya yang terutama: menginspirasi orang untuk membuat Indonesia lebih baik. Tidak perlu sesuatu yang besar; dengan merubah sedikit demi sedikit, misalnya, kebiasaan orang membuang sampah sembarangan menjadi membuang sampah pada tempatnya, akan membuat negara ini lebih baik, bangsa ini lebih baik.

Perubahan mulai dari kita masing-masing, bukan dari birokrat, bukan dari pemerintahan (biarkan mereka melakukan perubahan sendiri). Jadi, pakailah batik dengan bangga hari ini, dengan sepenuhnya sadar bahwa itu adalah langkah pertama yang kecil, untuk membuat Indonesia lebih baik, di mata kita dan di mata dunia.

Perjuangan sudah mulai kawan!

Saturday, September 19, 2009

MOBI Test no. 4: Serpong, Tangerang

Monday, August 17, 2009

#IndonesiaUnite, Kenapa Nasionalisme, Kenapa Sekarang?

Untuk beberapa kalangan, terutama di kalangan pengguna Twitter di Indonesia (dan terutama di Jakarta), gaung #indonesiaunite masih sangat terasa, dan bahkan sudah membuahkan berbagai kegiatan dan berpuncak pada pendeklarasian Amanat Bersama tanggal 16 Agustus kemarin. Kalau mau baca lebih rinci sih, lebih baik ke website indonesiaunite.com karena sudah cukup jelas.

Gerakan ini berpegang pada prinsip bahwa #indonesiaunite 'hanya' sebuah semangat, dan tidak akan diformalkan ke dalam sebuah organisasi atau struktur lain. Hal ini pernah juga saya bahas pada blog posting ini beberapa minggu lalu, yang pada intinya menekankan kekuatan #indonesiaunite terletak justru pada sifatnya yang crowdsourcing (belum ada padanan Bahasa Indonesianya nih) dan menyebar secara viral. Untuk yang memperhatikan, sangat terlihat bagaimana semangat #indonesiaunite menyebar secara viral ke berbagai kalangan.

Tapi masih banyak juga kalangan masyarakat yang tidak tahu-menahu mengenai gerakan ini, berhubung informasi mengenai #indonesiaunite praktis lebih banyak menyebar pada kalangan pengguna internet, yang notabene masih relatif belum banyak di Indonesia. Banyak juga kalangan yang tidak peduli karena lebih peduli ke hal lain, apapun itu. Ada juga pihak-pihak yang skeptis, mengatakan bahwa gerakan ini omong kosong belaka, atau mempertanyakan kenapa baru nasionalis setelah ada serangan bom. Bentuk nyatanya apa? tanya mereka.

Adapun kalangan yang baru belakangan tahu mengenai #indonesiaunite, dan pertanyaan mereka pertama adalah "siapa sih yang bikin?" yang agak sulit dijelaskan tanpa menjelaskan Twitter itu apa, ha ha. Pada awalnya pihak media pun masih salah kaprah dengan menilai bahwa #indonesiaunite adalah gagasan satu atau beberapa orang, bukan secara crowdsourcing (yang memang relatif baru di Indonesia). Tapi mudah-mudahan fakta penting mengenai #indonesiaunite ini akan menyebar seiring meningkatnya pemahaman orang mengenai media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Nah, saya ingin mencoba memahami sekaligus menawarkan jawaban untuk kalangan-kalangan yang saya sebut di atas.

Generasi saya besar di masa Orde Baru, yang notabene penuh dengan doktrin-doktrin PMP dan P4 dan GBHN dan mahluk-mahluk singkatan hapalan lain, yang seolah disuntikkan ke dalam kepala kita sejak SD. Karena memang pola pendidikannya doktrin, bukan pemahaman, jadi banyak dari kita seolah menolak pendidikan ini. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, yang mungkin berlaku untuk hampir semua mata pelajaran lain selama SD sampai SMA. Kuncinya di sini: karena PMP dan P4 esensinya sangat kuat pada cinta bangsa dan negara, jadi ada bagian dari kita seolah-olah menolak untuk merasakan hal ini. Efeknya? Kalau ada orang yang beneran cinta bangsa dan negara, dianggap aneh. Ada juga hal lain yang penting dalam P4 yang seperti 'ditolak' oleh kita: menghargai hasil karya orang lain.

Padahal sebenarnya, rakyat kita cinta bangsa dan negara kok. Tapi terkadang malu mengungkapkan, kecuali dalam perayaan 17 Agustus, dalam bentuk menjadi panitia atau semacamnya - atau hal-hal kecil lain. Begitu ada yang bicara soal negara, otomatis dianggap mau berpolitik, baik itu di masa Orde Baru maupun setelahnya. Hampir-hampir, kita sampai pada sebuah situasi di mana orang yang terlihat cinta bangsa dan negara hanya para politikus (yang mungkin saja lebih cinta kepentingan kelompoknya), dan para atlit nasional dan daerah (pahlawan modern tanpa tanda jasa).

Susahnya lagi, perseteruan tingkat atas politik dan pemerintahan soal negara membuat makin banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap negara, terlebih lagi dengan adanya stigma bahwa pemerintah tidak melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik (yang mungkin adalah pendapat subyektif, karena terkadang yang kita lihat hanya jeleknya saja).

Lagi-lagi, tetap saja, rakyat Indonesia cinta bangsa kok. Negara mungkin nomer dua. Cuma karena masih ada persepsi bahwa membicarakan bangsa atau negara adalah hal yang sama, lantas pembicaraan nasionalis cenderung terbungkam, terutama dengan naiknya konteks-konteks berbau agama dalam wacana pemikiran nasional. Ini adalah strike three, kalau meminjam istilah baseball - nasionalis dianggap sekular, yang dalam persepsi banyak orang Indonesia, berarti tidak beragama (padahal berarti pemisahan urusan negara dan agama belaka). Padahal, sebagai negara yang 99,99% penduduknya memeluk agama, kita tetap bisa nasionalis tanpa melupakan agama.

Terkena tiga kali sekalipun, rakyat kita masih ada yang berjiwa nasionalis - pahlawan tanpa tanda jasa yang lain adalah generasi entrepreneur - apapun bidangnya - yang dengan caranya sendiri memajukan Indonesia, langkah demi langkah.

Serangan bom demi serangan bom terjadi di Indonesia, yang membuat banyak rakyat bingung dan marah. Ya, betul, pada tiap serangan bom yang sebelum 17 Juli 2009, rakyat Indonesia bingung dan marah, hanya saja energi kemarahan itu seperti ditelan masing-masing, hanya terungkap lewat berbagai tulisan dan karya, yang tidak terhubung.

Bedanya dengan kejadian tahun ini? 4 tahun lalu, Twitter bahkan belum ada. Belum ada istilah Social Media, dan orang masih sibuk mengumpulkan testimonial Friendster. Di tahun 2009, media Twitter menjadi penghubung berbagai orang dari berbagai kalangan yang mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan atas serangan 17 Juli 2009. Dan dari media ini, muncul semangat bersama-sama untuk menjadikan Indonesia lebih baik - dan menyatakan Tidak Takut pada aksi terorisme - dalam bentuk #indonesiaunite.

Jadi jawaban judul artikel ini, kenapa nasionalisme, kenapa sekarang apa? Jawabannya adalah: nasionalisme sudah ada dari dulu, tapi tidak bisa keluar. Karena terpancing kemarahan, semangat melawan terorisme dan semangat membuat Indonesia lebih baik, para pengguna Twitter ini menemukan bahwa ternyata banyak yang memiliki semangat yang sama, sehingga lahirlah #indonesiaunite.

Dan timbullah sesuatu yang mungkin sangat unik di Indonesia, mungkin di dunia - sebuah semangat tanpa organisasi, yang bebas diterjemahkan oleh para pendukungnya sejauh sesuai semangat yang sudah dituangkan dalam Amanat Bersama. Semangat yang sengaja tanpa organisasi supaya dapat inklusif ke berbagai pihak, dan sebuah gerakan yang relatif tanpa pemimpin dan tokoh supaya dapat melintasi batas-batas idealisme dan ego masing-masing orang.

Jadi untuk yang belum tahu soal #indonesiaunite, mungkin tidak terlalu penting untuk tahu, sejauh semangatnya sama.
Untuk yang tidak peduli, sekarang saatnya untuk peduli! Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh pemerintah. Kita yang menentukan.
Untuk yang skeptis, jangan malu untuk merasakan cinta bangsa dan negara.
Dan untuk yang masih belum sepenuhnya memahami esensi #indonesiaunite, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu. Untuk "ikut" #indonesiaunite, tidak perlu daftar apa, ke sekretariat apa, atau apapun yang lain. Tinggal berkarya untuk Indonesia.

Selamat berjuang!

Sunday, August 02, 2009

Pekerjaan, Kepuasan, dan Kesetimbangan

Belakangan gue banyak ngobrol sama Saskia, dan banyak temen-temen gue, untuk mencoba meluruskan segala benang kusut yang udah menumpuk di hati dan otak beberapa tahun ini. Memang, hidup di Jakarta - atau mungkin, hidup di mana aja jaman sekarang - lebih banyak chaosnya ketimbang yang teratur.. ya paling tidak untuk gue sendiri.

Tapi ya ternyata beberapa teman baik yang gue ajak ngobrol, sedang mengalami hal-hal yang kurang lebih sama dengan yang gue alami sekarang - kebanyakan kerjaan, kepuasan yang didapatkan dari pekerjaan berkurang, semangat turun - yang pastinya akan merembet ke hal-hal lain dan mempengaruhi kinerja.

Paling tidak sih gue agak terhibur karena ternyata bukan gue yang menjadi gila, tapi memang gejala jaman aja kali ya, terutama buat temen-temen dalam situasi yang hampir sama dengan gue.

Bertahun-tahun lalu gue pernah bilang ke sahabat gue, bahwa kerja ya kerja aja, karena kerja bukan hidup. Nggak usah cari kerjaan yang bener-bener ideal dengan keinginan kita, karena yang pertama pasti susah dapet yang bener-bener pas, kedua ya, hidup nggak kerja doang kok - jadi pastiin apa yang lu kerjain bisa melengkapi hidup lu.

Gue tarik balik sedikit deh perkataan itu ya. Kalau kita sudah sampai pada tingkatan tertentu di pekerjaan, bisa itu gaji cukup atau kedudukan/tanggung jawab sesuai keinginan, ternyata nanti ada satu hal lagi yang bisa 'menghancurkan' dua hal itu: kepuasan bekerja. The passion for work, job satisfaction. Atau malah, satisfaction aja.

Yang kita cari tuh apa sih sebenernya dengan bekerja? Biar bisa bawa pulang uang, yang nanti akan dipakai untuk beli ini-itu? Percaya deh, mau gaji berapapun, pasti ada aja kurangnya, nggak bisa ini lah, nggak bisa itu lah. Nggak bisa ganti HP, nggak bisa liburan ke Singapur, nggak bisa makan sushi, nggak bisa beli baju baru.... kita udah terpola konsumtif, jadi pasti adaaa aja yang tidak terpenuhi. Padahal sisi konsumtif itu untuk apa sih? Pastinya, untuk kepuasan diri juga.

Setelah proses yang gue lalui bertahun-tahun, gue punya kesimpulan ini untuk diri sendiri: kerjakan apapun yang memberi kepuasan pada diri lu, tapi pastinya, lu harus tau definisinya kepuasan itu apa pada diri lu. Apa itu perut kenyang tiap malam? Bisa punya BB? Anak bisa sekolah sampai lulus kuliah? Perdamaian dunia? Itu aja didefinisikan dulu. Buat gue sendiri aja itu cukup susah, dan gue yakin masih banyak yang masih sulit mendefinisikan kepuasannya sendiri tanpa terganggu oleh berbagai faktor external.

Nah, kalau udah tau dapat kepuasan dari mana, baru bisa tuh, disusun lagi dari awal, bagian-bagian puzzle yang menjadi hidup kita. Kerjanya apa, hobinya apa, hidup di rumah kayak apa, dan bagaimana menyeimbangkan itu semua. Bukan proses gampang; tapi kalau kita sudah mengenali kebutuhan akan kesetimbangan itu, pasti lebih mudah. Gue sendiri pelan-pelan masih di tahap awal. Pokoknya, prinsipnya adalah, hidup kita adalah sebuah lingkaran utuh; tinggal kita atur porsi-porsinya di dalam lingkaran itu. Kalau ada yang kebanyakan, nanti yang lain berkurang, atau malah merusak bentuk lingkaran tersebut.

Nah, paling mudah dan ideal adalah, bekerja sesuai passion kita, kalau mau lingkaran itu penuh. Tergantung juga sih, definisi kepuasan tadi apa ya.

Mundur sedikit ya. Gue sendiri, dan mungkin temen-temen gue yang gue ajak ngobrol, mengalami beban luar biasa dan kejenuhan dan berbagai gejala lain, yang, terlepas dari faktor external, disebabkan oleh kurang mendapat kepuasan bekerja. Akarnya di situ.

Pilihannya cuma tiga:
1. kurangi ekspektasi kita akan kepuasan di pekerjaan tersebut. Tapi ini yang membuat banyak orang menjadi 'zombie' di pekerjaannya.
2. cari jalan keluar, supaya kepuasan bekerjanya bisa meningkat.
3. kalo mentok juga, ya cari kerjaan lain... tapi jangan sampai terjebak di lingkaran setan yang sama.

Perlu diingat juga, prioritas kita dalam hidup itu pasti sewaktu-waktu berubah, karena toh kita pasti tumbuh dan berubah. Maka dari itu, definisi kepuasannya juga pasti perlu diteliti lagi sewaktu-waktu, supaya kesetimbangan hidup tetap terjaga.

Perjuangan hidup terbesar sepertinya menjaga kesetimbangan itu terus ya, terutama dengan berbagai faktor external yang positif dan negatif yang pasti akan 'mengganggu' dengan caranya sendiri.

Untuk saat ini, kepuasan gue bisa didapat dari:
- berkreasi, dan melihat kreasi itu jadi kenyataan. apapun bentuknya
- manfaat, di luar manfaat finansial seperti gaji, bonus dll. Lebih ke pekerjaannya ada manfaatnya untuk orang lain, bisa itu keluarga, bisa itu bangsa atau negara, ataupun diri sendiri.
- amal. tabungan duniawi dapet kalau bekerja keras dan pintar, tapi gimana caranya tabungan surgawi juga dapet? Gue bukan santri atau orang yang cenderung agamis, tapi karena gue percaya kerja itu ibadah, mbok ya kerjaan gue emang beneran punya nilai amal. Kalau kerja adalah ibadah tapi buat dapetin pahala doang, kok egois ya rasanya.

Satu lagi pemikiran yang keluar: karena kerjaan itu ibadah, kita harus kerja dengan hati senang, kalo nggak, nilai ibadahnya berkurang.

Gue menulis ini bukan sok-sokan ngasih nasihat atau apa, tapi mencoba menulis apa yang sudah menjadi pikiran gue beberapa bulan ini - mudah-mudahan bermanfaat juga ke orang lain.

Monday, July 20, 2009

Essay: The Importance Of #indonesiaunite

Well of course, the #indonesiaunite movement that started through Twitter was initially part of a reaction towards the bombings of JW Marriot and Ritz-Carlton last Friday. But in mere hours, #indonesiaunite has morphed into a wave of nationalism that has not been seen since the 1998 demonstrations that brought down Soeharto.

Because of the high profile #indonesiaunite has received through Twitter's Trending Topics (and reached no.1 several times), many Indonesian twitterers have been stating the virtues of Indonesia in 140 characters or less. Whether it be the exotic islands and culture, the culinary adventures, or even imperfect sides like Jakarta's seemingly constant traffic jams, Indonesians have been pushing out positive messages and promoting their own country.

It would seem that, as I had said in a previous tweet, that all the closet nationalists have come out and made themselves heard. Of course, in such a diverse country like this, some naysayers or skeptics are questioning on whether that #indonesiaunite is just a fad, or is it something that would actually matter.

Well here's my thought. Most of us bloggers and twitterers aren't in the armed forces, so we don't know anything about physically defending the country. Many of us aren't politicians, legislators or bureaucrats either, so there is not yet anything concrete we can do to make Indonesia better. Most of us are still in school or are simple employees, so we do not have the capital to fund something significant.

Yet we all do recognize something - the power of viral communication. I might only be able to persuade, say 5 people around be aware of the spirit of #indonesiaunite, but if all the Indonesian users of Twitter could do the same thing, we'd have a small yet growing thing going.

The message of #indonesiaunite is simple yet it might be different for every person - that is why it is a potent force to begin with. It is time that we all rediscover our love of country, and make sure we rekindle it in others too!

You could say that #indonesiaunite is a political movement, because, up to today, it has not morphed into, say, a non-governmental organization. I would say no to such thing, because to institutionalize an idea like this would be to kill the idea itself. Organizations need leaders, but yet #indonesiaunite has no leader other than the concept itself.

#indonesiaunite has, in the span of 3-4 days, become a uniquely 21st century movement - a wholly crowdsourced movement where each and every participant contributes equally to the strength of the movement.

Whether or not the #indonesiaunite spirit can be transferred offline, as has been the discussion for the past 2 days, and properly infused into the general public psyche, remains to be seen. Such a direction may need more traditional approaches. Nevertheless, one may hope that when historians look back on the moment where Indonesia picked itself up and flew into the future, it would not be because of one person or a group of people, it would be because of #indonesiaunite.

Only together we can change this country for the better. Indonesia unite!

Komentar Subyektif Tentang Serangan 17 Juli 2009

Ternyata gue nggak bisa tinggal diam. Tadinya gue nggak mau berkomentar apa-apa, hanya berduka untuk keluarga-keluarga yang terkena musibah serangan teroris di Ritz Carlton dan JW Marriot Jumat kemarin, dan menggenapkan semangat untuk tidak takut pada serangan teroris.

Tapi baru lewat 3 hari, udah makin aneh omongan orang di media.
Pertama, presscon Presiden SBY hari Jumat, yang malah membahas ada upaya menghentikan beliau dilantik. Gue masih agak bisa menerima ini sebagai upaya menggambarkan ke masyarakat Indonesia bahwa banyak orang yang berupaya mengacaukan perdamaian di Indonesia; beliau pun bilang belum tentu terkait. Namun, hal ini langsung ditanggapi tim Mega-Prabowo sebagai sesuatu yang salah, bla bla bla... sambil mereka menyatakan juga, serangan bom jangan dipolitisir. Menurut gue, ga usah komentar dulu kalo ga mau memperkeruh suasana.

Terus, media luar (dan mungkin pernyataan dari beberapa perwira) bahwa serangan-serangan tersebut terkait dengan Jemaah Islamiyah. Terlalu dini untuk menyimpulkan itu, karena bukti (paling tidak yang sudah diberitakan di media massa) belum konklusif, dan tidak ada pernyataan dari JI sendiri. Biarkan polisi bekerja. Kalau memang ternyata JI, ya kita liat buktinya saja. Kalau bukan, ya biarkan bukti yang bicara, karena orang bisa ngomong apa aja.

Lalu ada sang pakar telematika yang bilang, teroris pasti nggak pakai internet untuk melakukan serangan. Gue nggak mau komentar deh yang satu ini.

Nah sekarang, Tim Pengacara Muslim, yang entah kenapa harus menegaskan bagian 'Muslim'nya, mengeluarkan pernyataan bahwa serangan bom Kuningan tidak berkaitan dengan JI, dan meminta kepolisian tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa serangan terkait dengan jaringan Islam tertentu.

Sekarang gue balik deh. Fakta yang sudah diberitakan adalah, walaupun modus operandi baru, cara rakitan bom identik dengan serangan-serangan lain yang sudah dibuktikan terkait dengan JI. Nggak berarti udah pasti JI sih, tapi belum tentu juga bukan JI. Mentang-mentang namanya 'Jemaah Islamiyah' (yang menurut gue, nama itu adalah rekaan media Barat) jadi harus dibela sama TPM. Kalau JI memang ada, harus dibela? Karena mereka bunuh orang atas nama Islam, harus dibela? Islam itu kuat kok, dan Islam itu suci. Nggak berarti orang Islam itu pasti nggak salah kan. TPM bilang jangan berspekulasi, tapi bilang juga bahwa tidak terkait JI. Ah, gimana sih.

Kita perlu memberi ruang dan waktu untuk membiarkan para aparat menyelesaikan penyelidikan, dan tugas kita sebagai warga negara adalah terus membangun Indonesia. Indonesia akan maju bukan karena pemerintahannya saja, tapi karena rakyatnya juga. Rakyatnya yang bersatu demi bangsanya. Kayaknya udah nggak jamannya lagi kita terlalu membedakan antara suku, agama, ras dan... satu lagi apa sih... ya itu deh.

Indonesiaunite!